Model Pembelajaran Two Stay Two Stray

  1. A.    PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan kegiatan yang universal dalam kehidupan manusia, dengan pendidikan manusia berusaha mengembangkan potensi yang dimilikinya, mengubah tingkah laku ke arah yang lebih baik. Pendidikan juga dapat mencetak manusia menjadi sumber daya manusia yang handal dan terampil di bidangnya. Pendidikan sebenarnya merupakan suatu rangkaian peristiwa yang kompleks. Peristiwa tersebut merupakan suatu rangkaian kegiatan komunikasi antar manusia sehingga manusia itu tumbuh sebagai pribadi yang utuh. Selain itu dalam dunia pendidikan, proses belajar mengajar merupakan proses yang bisa diterapkan.

Pada era globalisasi saat ini menuntut adanya sumber daya manusia yang berkualitas. Kualitas sumber daya manusia salah satunya dapat diperoleh dari proses pembelajaran yaitu melalui pendidikan. Pendidikan dewasa ini menuntut adanya pemahaman kepada peserta didik. Pemahaman yang dimaksud bukanlah pemahaman dalam arti sempit yaitu menghafal materi pelajaran, namun pemahaman dalam arti luas yaitu lebih cenderung menekankan pada kegiatan proses pembelajaran yang meliputi menemukan konsep, mencari dan lain sebagainya serta peserta didik dituntut untuk dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Namun sayangnya, praktek pembelajaran yang demikian masih belum diterapkan secara keseluruhan, sehingga tujuan dan hasil pendidikan belum sesuai dari apa yang diharapkan.

Proses pembelajaran yang berkembang di kelas umumnya ditentukan oleh peran guru dan siswa sebagai individu-individu yang terlibat langsung di dalam proses tersebut. Prestasi belajar siswa itu sendiri sedikit banyak tergantung pada cara guru menyampaikan pelajaran pada anak didiknya. Oleh karena itu kemampuan serta kesiapan guru dalam mengajar memegang peranan penting bagi keberhasilan proses pembelajaran pada siswa. Hal ini menunjukkan adanya keterkaitan antara prestasi belajar siswa dengan metode mengajar yang digunakan oleh guru.

Pembelajaran Ekonomi selalu mengalami perubahan dan pembaharuan baik dari segi materi dan bahan ajar, pendekatan pembelajaran serta alat dan sumber belajar. Ketiga bentuk pembaharuan tersebut merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi. Agar pembelajaran ekonomi menjadi dinamis dan efektif, maka guru ekonomi harus mengikuti perubahan-perubahan yang terjadi dalam pembelajaran ekonomi.

Dalam interaksi belajar mengajar terdapat berbagai macam model pembelajaran yang bertujuan agar proses belajar mengajar dapat berjalan baik. Hal ini juga bertujuan untuk menciptakan proses belajar mengajar aktif serta memungkinkan timbulnya sikap keterkaitan siswa untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar secara menyeluruh.

Perlunya dikembangkan pengajaran yang dapat membangun keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar adalah sebagai alternatif model pembelajaran yang baru. Pembelajaran yang efektif tersebut harus diimbangi dengan kemampuan guru dalam menguasai model pembelajaran dan materi yang akan diajarkan.

Proses pembelajaran yang baik adalah yang dapat menciptakan pembelajaran yang efektif dengan adanya komunikasi dua arah antara guru dengan peserta didik yang tidak hanya menekan pada apa yang dipelajari tetapi menekan bagaimana ia harus belajar. Salah satu alternatif untuk pengajaran tersebut adalah menggunakan model pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS). Penerapan model pembelajaran yang bervariasi akan mengatasi kejenuhan siswa sehingga dapat dikatakan bahwa model pembelajaran sangat berpengaruh terhadap tingkat pemahaman siswa.

Aktivitas belajar siswa merupakan salah satu faktor penting dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini mengingatkan bahwa kegiatan pembelajaran diadakan dalam rangka memberikan pengalaman-pengalaman belajar pada siswa. Jika siswa aktif dalam kegiatan tersebut kemungkinan besar akan dapat mengambil pengalaman-pengalaman belajar tersebut. Kegiatan belajar dipandang sebagai kegiatan komunikasi antara siswa dan guru. Kegiatan komunikasi ini tidak akan tercapai apabila siswa tidak dapat aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan adanya keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar kemungkinan besar prestasi belajar yang dicapai akan memuaskan.

 

  1. B.     TEORI MODEL TWO STAY TWO STRAY

Penggunaan istilah “model” barangkali lebih dikenal dalam dunia fashion. Sebenarnya dalam pembelajaran pun istilah “model” juga banyak dipergunakan. Mills (Suprijono, 2011), berpendapat bahwa “model adalah bentuk representasi akurat sebagai proses aktual yang memungkinkan seseorang atau sekelompok orang mencoba bertindak berdasarkan model itu”. Model merupakan interpretasi terhadap hasil observasi dan pengukuran yang diperoleh dari beberapa sistem.

Model pembelajaran merupakan landasan praktik pembelajaran hasil penurunan teori psikologi pendidikan dan teori belajar yang dirancang berdasarkan analisis terhadap implementasi kurikulum dan implikasinya pada tingkat operasional di kelas. Model pembelajaran dapat diartikan sebagai pola yang digunakan untuk penyusunan kurikulum, mengatur materi, dan memberi petunjuk kepada guru di kelas.

Untuk lebih menunjang keberhasilan dari pembelajaran kooperatif maka alternatif solusi yang dipilih adalah model pembelajaran tipe two stay-two stray (dua tinggal dua tamu). Model pembelajaran tipe ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerjasama dengan teman satu kelompoknya ataupun dengan teman dalam kelompok lain, berinteraksi sosial dengan membagikan ide serta mempertimbangkan jawaban yang paling tepat dari hasil interaksinya tersebut (Lie, 2008). Melalui model pembelajaran ini siswa belajar melaksanakan tanggung jawab pribadi dan kelompoknya serta saling keterkaitan dengan rekanrekan sekelompoknya.

Model Two Stay Two Stray “Dua tinggal dua tamu” yang dikembangkan oleh Spencer Kagan 1992. Struktur Two Stay Two Stray yaitu salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang memberikan kesempatan kepada kelompok membagikan hasil dan informasi kepada kelompok lain. Hal ini dilakukan karena banyak kegiatan belajar mengajar yang diwarnai dengan kegiatan-kegiatan individu. Siswa bekerja sendiri dan tidak diperbolehkan melihat pekerjaan siswa yang lain. Padahal dalam kenyataan hidup di luar sekolah, kehidupan dan kerja manusia saling bergantung satu sama lainnya.

Model Pembelajaran Kooperatif tipe Two Stay Two Stray bisa memberikan sedikit gambaran pada siswa mengenai kenyataan kehidupan dimasyarakat, yaitu dalam hidup bermasyarakat diperlukan hubungan ketergantungan dan interaksi sosial antara individu dengan individu lain dan antar individu dengan kelompok.

Penggunaan model pembelajaran kooperatif Two Stay Two Stray akan mengarahkan siswa untuk aktif, baik dalam berdiskusi, tanya jawab, mencari jawaban, menjelaskan dan juga menyimak materi yang dijelaskan oleh teman. Selain itu, alasan menggunakan model pembelajaran Two Stay Two Stray ini karena terdapat pembagian kerja kelompok yang jelas tiap anggota kelompok, siswa dapat bekerjasama dengan temannya, dapat mengatasi kondisi siswa yang ramai dan sulit diatur saat proses belajar mengajar.

Dalam pembagian kelompok pembentukannya dilakukan secara permanen yang memungkinkan siswa untuk berinteraksi dengan dengan anggota kelompok lain. Biasanya pembentukan kelompok dilakukan sebanya 4 orang satu kelompok, sesuai dengan pendapat Lie (2008) bahwa membentuk kelompok berempat memiliki kelebihan yaitu kelompok mudah dipecah menjadi berpasangan, lebih banyak ide muncul, lebih banyak tugas yang bisa dikerjakan dan guru lebih mudah memonitor. Sedangkan kekuangan kelompok berempat adalah lebih banyak waktu, membutuhkan sosialisasi yang lebih baik, jumlah genap menyulitkan proses pengambilan suara dan mudah melepaskan diri dari keterlibatan.

Ciri-ciri model pembelajaran Two Stay Two Stray, yaitu:

  1. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.
  2. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
  3. Bila mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang berbeda.
  4. Penghargaan lebih berorientasi pada kelompok dari pada individu

 

  1. C.    KELEBIHAN DAN KEKURANGAN MODEL TWO STAY TWO STRAY

Suatu model pembelajaran pasti memiliki kekurangan dan kelebihan. Adapun kelebihan dari model Two Stay Two Stray adalah sebagai berikut.

  1. Memberikan kesempatan terhadap siswa untuk menentukan  konsep sendiri dengan cara memecahkan masalah Dapat diterapkan pada semua kelas/tingkatan
  2. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk menciptakan kreatifitas dalam melakukan komunikasi dengan tema sekelompoknya
  3. Kecenderungan belajar siswa menjadi lebih bermakna
  4. Lebih berorientasi pada keaktifan.
  5. Diharapkan siswa akan berani mengungkapkan pendapatnya
  6. Siswa dapat meningkatkan kemapuan berpikir kritis
  7. Menambah kekompakan dan rasa percaya diri siswa.
  8. Kemampuan berbicara siswa dapat ditingkatkan.
  9. Membantu meningkatkan minat dan prestasi belajar

 

Sedangkan kekurangan dari model Two Stay Two Stray adalah:

  1. Membutuhkan waktu yang lama
  2. Siswa yang tidak terbiasa belajar kelompok merasa asing dan sulit untuk bekerjasama sehingga siswa cenderung tidak mau belajar dalam kelompok
  3. Bagi guru, membutuhkan banyak persiapan (materi, dana dan tenaga)
  4. Guru cenderung kesulitan dalam pengelolaan kelas.

 

Untuk mengatasi kekurangan pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray, maka sebelum pembelajaran guru terlebih dahulu mempersiapkan dan membentuk kelompok-kelompok belajar yang heterogen ditinjau dari segi jenis kelamin dan kemampuan akademis. Berdasarkan sisi jenis kelamin, dalam satu kelompk harus ada siswa laki-laki dan perempuannya. Jika berdasarkan kemampuan akademis maka dalam satu kelompok terdiri dari satu orang berkemampuan akademis tinggi, dua orang dengan kemampuan sedang dan satu lainnya dari kelompok kemampuan akademis kurang. Pembentukan kelompok heterogen memberikan kesempatan untuk saling mengajar dan saling mendukung sehingga memudahkan pengelolaan kelas karena dengan adanya satu orang yang berkemampuan akademis tinggi yang diharapkan bisa membantu anggota kelompok yang lain.

 

  1. D.    ASUMSI PENERAPAN MODEL TWO STAY TWO STRAY

Pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray terdiri dari beberapa tahapan sebagai berikut.

  1. Persiapan

Pada tahap persiapan ini, hal yang dilakukan guru adalah membuat silabus dan sistem penilaian, desain pembelajaran, menyiapkan tugas siswa dan membagi siswa menjadi beberapa kelompok dengan masing-masing anggota 4 siswa dan setiap anggota kelompok harus heterogen berdasarkan prestasi akademik siswa dan jenis kelamin.

  1. Presentasi Guru

Pada tahap ini guru menyampaikan indikator pembelajaran, mengenal dan menjelaskan materi sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah dibuat.

  1. Kegiatan Kelompok

Pada kegiatan ini pembelajaran menggunakan lembar kegiatan yang berisi tugas-tugas yang harus dipelajari oleh tiap-tiap siswa dalam satu kelompok. Setelah menerima lembar kegiatan yang berisi permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan konsep materi dan klasifikasinya, siswa mempelajarinya dalam kelompok kecil (4 siswa) yaitu mendiskusikan masalah tersebut bersama-sama anggota kelompoknya. Masing-masing kelompok menyelesaikan atau memecahkan masalah yang diberikan dengan cara mereka sendiri. Kemudian 2 dari 4 anggota dari masing-masing kelompok meninggalkan kelompoknya dan bertamu ke kelompok yang lain, sementara 2 anggota yang tinggal dalam kelompok bertugas menyampaikan hasil kerja dan informasi mereka ke tamu. Setelah memperoleh informasi dari 2 anggota yang tinggal, tamu mohon diri dan kembali ke kelompok masing-masing dan melaporkan temuannya serta mancocokkan dan membahas hasil-hasil kerja mereka.

  1. Formalisasi

Setelah belajar dalam kelompok dan menyelesaikan permasalahan yang diberikan salah satu kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya untuk dikomunikasikan atau didiskusikan dengan kelompok lainnya. Kemudian guru membahas dan mengarahkan siswa ke bentuk formal.

  1. Evaluasi Kelompok dan Penghargaan

Pada tahap evaluasi ini untuk mengetahui seberapa besar kemampuan siswa dalam memahami materi yang telah diperoleh dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif model TSTS. Masing-masing siswa diberi kuis yang berisi pertanyaan-pertanyaan dari hasil pembelajaran dengan model TSTS, yang selanjutnya dilanjutkan dengan pemberian penghargaan kepada kelompok yang mendapatkan skor rata-rata tertinggi.

 

  1. E.     IMPLEMENTASI MODEL TWO STAY TWO STRAY

Model pembelajaran dua tinggal dua tamu (two stay two stray) adalah model pembelajaran yang memberi kesempatan kepada kelompok untuk membagikan hasil dan informasi dengan kelompok lainnya. Hal ini dilakukan dengan cara saling mengunjungi atau bertemu antar kelompok untuk berbagi informasi.

Langkah-langkah model pembelajaran two stay two stray adalah

  1. Siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok
  2. Masing-masing kelompok diberi tugas untuk berdiskusi tentang suatu materi tertentu, guru membantu menjelaskan pada masing-masing kelompok jika ada yang kurang mengerti
  3. Setelah dirasa cukup masing-masing kelompok menunjuk salah satu anggotanya untuk diam ditempatnya sedangkan sisanya berjalan-jalan sebagai tamu dalam kelompok lain
  4. Tugas tuan rumah adalah menjelaskan hasil diskusinya kepada setiap tamu yang datang sedangkan tugas tamu yang datang adalah mencari informasi sebanyak-banyaknya materi yang didiskusikan oleh kelompok tersebut
  5. Setelah dirasa cukup mendapatkan informasi, anggota kelompok yang jadi tamu bertugas untuk menyebarkan informasi yang diterimanya dari kelompok ke anggota dari kelompoknya sendiri
  6. Begitu seterusnya bergantian hingga masing-masing anggota kelompok pernah merasakan peran sebagai tuan rumah maupun tamu
  7. Kesimpulan
Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar

Model Pembelajaran Make-A Match

  1. A.    PENDAHULUAN

Pada era globalisasi saat ini menuntut adanya sumber daya manusia yang berkualitas. Kualitas sumber daya manusia salah satunya dapat diperoleh dari proses pembelajaran yaitu melalui pendidikan. Pendidikan dewasa ini menuntut adanya pemahaman kepada peserta didik. Pemahaman yang dimaksud bukanlah pemahaman dalam arti sempit yaitu menghafal materi pelajaran, namun pemahaman dalam arti luas yaitu lebih cenderung menekankan pada kegiatan proses pembelajaran yang meliputi menemukan konsep, mencari dan lain sebagainya serta peserta didik dituntut untuk dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Namun sayangnya, praktek pembelajaran yang demikian masih belum diterapkan secara keseluruhan, sehingga tujuan dan hasil pendidikan belum sesuai dari apa yang diharapkan.

Pendidikan merupakan kegiatan yang universal dalam kehidupan manusia, dengan pendidikan manusia berusaha mengembangkan potensi yang dimilikinya, mengubah tingkah laku ke arah yang lebih baik. Pendidikan juga dapat mencetak manusia menjadi sumber daya manusia yang handal dan terampil di bidangnya. Pendidikan sebenarnya merupakan suatu rangkaian peristiwa yang kompleks. Peristiwa tersebut merupakan suatu rangkaian kegiatan komunikasi antar manusia sehingga manusia itu tumbuh sebagai pribadi yang utuh. Selain itu dalam dunia pendidikan, proses belajar mengajar merupakan proses yang bisa diterapkan.

Proses pembelajaran yang berkembang di kelas umumnya ditentukan oleh peran guru dan siswa sebagai individu-individu yang terlibat langsung di dalam proses tersebut. Proses belajar siswa itu sendiri sedikit banyak tergantung pada cara guru menyampaikan pelajaran pada anak didiknya. Oleh karena itu kemampuan serta kesiapan guru dalam mengajar memegang peranan penting bagi keberhasilan proses pembelajaran pada siswa. Hal ini menunjukkan adanya keterkaitan antara hasil belajar siswa dengan metode mengajar yang digunakan oleh guru.

Pembelajaran Ekonomi selalu mengalami perubahan dan pembaharuan baik dari segi materi dan bahan ajar, pendekatan pembelajaran serta alat dan sumber belajar. Ketiga bentuk pembaharuan tersebut merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi. Agar pembelajaran ekonomi menjadi dinamis dan efektif, maka guru ekonomi harus mengikuti perubahan-perubahan yang terjadi dalam pembelajaran ekonomi.

Dalam interaksi belajar mengajar terdapat berbagai macam model pembelajaran yang bertujuan agar proses belajar mengajar dapat berjalan baik. Hal ini juga bertujuan untuk menciptakan proses belajar mengajar aktif serta memungkinkan timbulnya sikap keterkaitan siswa untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar secara menyeluruh.

Perlunya dikembangkan pengajaran yang dapat membangun keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar adalah sebagai alternatif model pembelajaran yang baru. Pembelajaran yang efektif tersebut harus diimbangi dengan kemampuan guru dalam menguasai model pembelajaran dan materi yang akan diajarkan.

Proses pembelajaran yang baik adalah yang dapat menciptakan pembelajaran yang efektif dengan adanya komunikasi dua arah antara guru dengan peserta didik yang tidak hanya menekan pada apa yang dipelajari tetapi menekan bagaimana ia harus belajar. Salah satu alternatif untuk pengajaran tersebut adalah menggunakan model pembelajaran Make-A Match (Mencari Pasangan). Penerapan model pembelajaran yang bervariasi akan mengatasi kejenuhan siswa sehingga dapat dikatakan bahwa model pembelajaran sangat berpengaruh terhadap tingkat pemahaman siswa.

Aktivitas belajar siswa merupakan salah satu faktor penting dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini mengingatkan bahwa kegiatan pembelajaran diadakan dalam rangka memberikan pengalaman-pengalaman belajar pada siswa. Jika siswa aktif dalam kegiatan tersebut kemungkinan besar akan dapat mengambil pengalaman-pengalaman belajar tersebut. Kegiatan belajar dipandang sebagai kegiatan komunikasi antara siswa dan guru. Kegiatan komunikasi ini tidak akan tercapai apabila siswa tidak dapat aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan adanya keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar kemungkinan besar prestasi belajar yang dicapai akan memuaskan.

  1. B.     TEORI MODEL Make-A Match (Mencari Pasangan)

Model pembelajaran kooperatif tipe mencari pasangan (make a match) yang diperkenalkan oleh Curran dalam Eliya (2009) menyatakan bahwa Make a Match adalah kegiatan siswa untuk mencari pasangan kartu yang merupakan jawaban soal sebelum batas waktunya, siswa yang dapat mencocokkan kartunya akan diberi point dan yang tidak berhasil mencocokkan kartunya akan diberi hukuman sesuai dengan yang telah disepakati bersama. Guru lebih berperan sebagai fasilitator dan ruangan kelas juga perlu ditata sedemikian rupa, sehingga menunjang pembelajaran kooperatif. Keputusan guru dalam penataan ruang kelas harus disesuaikan dengan kondisi dan situasi ruang kelas dan sekolah.

Dengan adanya model pembelajaran kooperatif tipe mencari pasangan (make a match) siswa lebih aktif untuk mengembangkan kemampuan berpikir . Disampingn itu (make a match) juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya dan mengeluarkan pendapat serta berionteraksi dengan siswa yang menjadikan aktif dalam kelas. Model Pembelajaran Make a Match artinya model pembelajaran Mencari Pasangan. Hal-hal yang perlu dipersiapkan jika pembelajaran dikembangkan dengan  Make-A Match adalah kartu-kartu. Kartu-kartu tersebut berisi pertanyaan-pertanyaan dan kartu lainnya berisi jawaban dari pertanyaan tersebut.

Menurut Huda (2011), ada berbagai manfaat pembelajaran kooperatif

adalah:

  1. Dapat memotivasi siswa untuk saling membantu pembelajaranya satu sama lain.
  2. Menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap kelompoknya (sebagaimana kepada diri mereka sendiri) untuk melakukan yang terbaik.
  3. Meningkatkan keterampilan sosial yang dibutuhkan untuk bekerja secara efektif.
  4. Dapat memberikan kesempatan kepada para siswa untuk menggunakan ketrampilan bertanya dan membahas sesuatu masalah.
  5. Dapat mengembangkan bakat kepemimpinan dan mengajarkan ketrampilan berdiskusi.
  6. C.    KELEBIHAN DAN KEKURANGAN MODEL MAKE-A MATCH

Suatu model pembelajaran pasti memiliki kekurangan dan kelebihan. Adapun kelebihan dari model Make-A Match adalah sebagai berikut:

  1. Siswa terlibat langsung dalam menjawab soal yang disampaikan kepadanya melalui kartu.
  2. Meningkatkan kreativitas belajar siswa.
  3. Menghindari kejenuhan siswa dalam mengikuti  kegiatan belajar mengajar.
  4. Pembelajaran lebih menyenangkan karena melibatkan media pembelajaran yang dibuat oleh guru.

Sedangkan kekurangan model ini adalah:

  1. Sulit bagi guru mempersiapkan kartu-kartu yang baik dan bagus sesuai dengan materi palajaran.
  2. Sulit mengatur ritme atau jalannya proses pembelajaran
  3.  Siswa kurang menyerapi makna pembelajaran yang ingin disampaikan karena siswa hanya merasa sekedar bermain saja.
  4. Sulit untuk membuat siswa berkonsentrasi.
    1. D.    ASUMSI PENERAPAN MODEL MAKE-A MATCH

Langkah penerpan model ini adalah guru membagi siswa menjadi 3 kelompok siswa. Kelompok pertama merupakan kelompok pembawa kartu-kartu berisi pertanyaan-pertanyaan. Kelompok kedua adalah kelompok pembawa kartu-kartu yang berisi jawaban. Sedangkan kelompok ketiga berfungsi sebagai kelompok penilai. Aturlah posisi kelompok-kelompok tersebut sedemikian sehingga berbentuk huruf U. Upayakan kelompok pertama berhadapan dengan kelompok kedua.

Jika  masing-masing kelompok telah berada di posisi yang telah ditentukan, maka guru membunyikan peluit sebagai tanda agar kelompok pertama dan kelompok kedua bergerak mencari pasangannya masing-masing sesuai dengan pertanyaan atau jawaban yang terdapat dikartunya. Berikan kesempatan kepada mereka untuk berdiskusi. Ketika mereka berdiskusi alangkah baiknya jika ada music instrumentalia yang lembut mengiringi aktivitas belajar mereka. Diskusi dilakukan oleh siswa yang membawa kartu yang berisi pertanyaan dan siswa yang membawa kartu  yang berisi jawaban.

Pasangan yang telah terbentuk wajib menunjukkan pertanyaan dan jawaban kepada kelompok penilai.Kelompok penilai kemudian membaca apakah pasangan pertanyaan dan jawaban itu cocok. Setelah penialai selesai dilakukan, aturlah sedemikain rupa kelompok pertama dan kelompok kedua bersatu kemudian memposisikan dirinya menjadi kelompok penialai. Sementara kelompok penilai pada sesi pertama dibagi menjadi dua kelompok. Sebagian anggota memegang kartu yang berisi pertanyaan dan sebagian lagi memegang kartu yang berisi jawaban. Kemudian posisikan mereka sperti huruf U. Guru kembali membunyikan peluitnya menandai pemegang kartu pertanyaan dan kartu jawaban bergerak untuk mencari pasanganya. Apababila masing-masing siswa telah menemukan pasangannya, maka setiap pasangan menunjukkan hasil kerjanya kepada penilai.

Langkah-langkah Model Pembelajarn Make-A Match

1.  Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topic yang cocok untuk review, satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban.

2.  Siswa dibagi menjadi 3 kelompok, kelompok 1 mendapat kartu soal dan kelompok 2 mendapat kartu jawaban sedangkan kelompok 3 berfungsi sebagai penilai.

3.   Tiap peserta didik mendapatkan satu kartu yang berisi pertanyaan atau jawaban.

4. Setiap peserta didik mencari pasangan yang cocok dengan kartunya (Pasangan pertanyaan-jawaban)

5.   Setiap peserta didik yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin oleh penilai.

6.    Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya

7.   Setelah semua siswa mendapatkan pasangannya kemudian siswa yang berperan sebagai penilai berganti peran menjadi pemegang kartu pertanyaan dan sebagian memegang kartu jawaban. Sedangkan siswa pada kelompok 1 dan 2 sebelumnya berganti peran sebagai penilai.

8.      Kemudian lakukan kegiatan seperti langkah pada nomor 4 dan 5.

9.      Kesimpulan dan penutup

Perlu diketahui bahwa tidak semua peserta didik baik yang berperan sebagai pemegang kartu pertanyaan, pemegang kartu jawaban maupun penilai mengetahui dan memahami secara pasti apakah betul kartu pertanyaan dan jawaban yang mereka pasangkan telah cocok atau tidak. Demikian halnya dengan penilai, mereka juga belum mengetahui secara pasti apakah penilaian mereka benar atas pasangan pertanyaan dan jawaban yang diberikan. Berdasarkan situasi inilah guru memfasilitasi siswa untuk mengkonfirmasi hal-hal yang telah mereka lakukan yaitu memasangkan pertanyaan dan jawaban dan melaksanakan penilaian.

 

 

 

 

  1. E.     IMPLEMENTASI MODEL MAKE-A MATCH DALAM PEMBELAJARAN EKONOMI

Metode Make A Match: Tujuan, Persiapan, Dan Implementasinya Dalam Pembelajaran                       

  1. Apakah metode make a match itu?
    Apabila Anda seorang guru, Anda mungkin pernah mendengar, bahkan sudah pernah menerapkan metode ini. Tulisan ini dapat Anda pakai sebagai salah satu bahan referensi, misalnya Anda ingin mengadakan penelitian. Penulis melakukan ini agar Anda, sebagai guru mempunyai rujukan. Mengingat, rujukan tentang metode make a match sangat terbatas.
    Anda mungkin lebih mengenal metode make a match sebagai metode mencari pasangan. Pengembang metode ini adalah Lorry Curran, tahun 1994. Metode make a match adalah metode pembelajaran aktif untuk mendalami atau melatih materi yang telah dipelajari. Setiap siswa menerima satu kartu. Kartu itu bisa berisi pertanyaan, bisa berisi jawaban. Selanjutnya mereka mencari pasangan yang cocok sesuai dengan kartu yang dipegang. Perkembangan berikutnya, para pengguna metode ini berusaha memodifikasi dan mengembangkannya. Saat ini, Anda dapat menemukan beberapa variasi dari metode ini.
    Ada 3 hal yang perlu Anda pemahami dan lakukan, jika Anda ingin menerapkan metode ini dengan baik. Pertama adalah tujuan pembelajaran make a match. Ke dua, persiapan yang perlu Anda lakukan. Ke tiga, sintaks atau langkah-langkah pembelajaran ketika menerapkan metode ini di kelas.
  2. Tujuan metode Make a Match       
    Tujuan yang ingin Anda capai dalam pembelajaran, sangat mempengaruhi Anda dalam memilih metode pembelajan. Setidaknya, ada tiga tujuan penerapan metode make a match, yaitu: (1) pendalaman materi; (2) menggali materi; dan (3) untuk selingan.
    Pengembang metode make a match pada mulanya merancang metode ini untuk pendalaman materi. Siswa melatih penguasanaan materi dengan cara memasangkan antara pertanyaan dan jawaban. Jika tujuan ini yang Anda pakai, maka Anda harus membekali dulu siswa Anda dengan materi yang akan dilatihkan. Anda dapat menjelaskan materi , atau Anda memberi tugas pada siswa untuk membaca materi terlebih dahulu, sebelum Anda menerapkan metode ini. Prinsipnya, siswa Anda harus mempunyai pengetahuan tentang matari yang akan dilatihkan terlebih dahulu. Baru setelah itu Anda menggunakan metode ini.
    Lain halnya, jika Anda ingin memakai tujuan ke dua, untuk menggali materi. Anda tidak perlu membekali siswa dengan materi, karena siswa sendiri yang akan membekali dirinya sendiri. Cara yang Anda tempuh adalah Anda menulis pokok-pokok materi pada potongan kertas. Lalu, Anda bagikan potongan kertas itu pada siswa Anda secara acak. Mintalah siswa Anda untuk mencocokkan/memasangkan potongan kertas tersebut menjadi satu materi utuh. Siswa yang sudah menemukan pasangannya, secara otomatis menjadi satu kelompok. Selanjutnya, Anda minta agar setiap kelompok bekerja sama menysusun materi secara utuh. Setelah semua kelompok selesai menyusun materi, Anda minta setiap kelompok untuk melakukan presentasi. Jangan lupa, Anda menekankan agar semua kelompok memperhatikan dan memberikan tanggapan pada kelompok yang sedang presentasi.
    Metode make a match juga dapat Anda pakai sebagai metode selingan. Apabila selingan yang menjadi tujuan Anda, maka Anda cukup melakukannya sesekali saja. Teknik yang Anda pakai sama dengan teknik mencari pasangan untuk mendalami materi.
  3. Persiapan yang Perlu Anda Lakukan       
    Setiap pembelajaran aktif atau inovatif membutuhkan persiapan, tidak terkecuali metode make a match. Sebelum menerapkannya di kelas, Anda perlu menyiapkan hal-hal di bawah ini:
    Make A Match mendalami/melatih materi

    1. Buatlah beberapa pertanyaan sesuai dengan materi yang dipelajari( jumlahnya tergantung tujuan pembelajaran). Tulis dalam kartu-kartu pertanyaan.
    2. Buatlah kunci jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang telah Anda buat. Tulis dalam kartu-kartu jawaban. Akan lebih baik jika kartu pertanyaan dan kartu jawaban berbeda warna
    3. Buatlah aturan yang berisi penghargaan bagi siswa yang berhasil dan sanksi bagi siswa yang gagal (Anda dapat membuat aturan ini bersama-sama dengan siswa).
    4. Sediakan lembaran untuk mencatat pasangan-pasangan yang berhasil sekaligus untuk penskoran presentasi.

make a match menggali materi

  1. Materi yang akan Anda ajarkan pecahlan menjadi beberapa sub materi
  2. Buatlah kata-kata kunci atau gambar dari setiap sub materi tersebut, lalu tulis dalam lembaran-lembaran kertas.
  3. Siapkan beberapa lembar kertas plano untuk menempelkan lembaran-lembaran kertas.
  4. Siapkan kertas HVS secukupnya untuk menuliskan hasil kerja kelompok.
  5. Sintaks atau Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran
    Make A Match untuk mendalami/melatih materi

    1. Pertama-tama Anda menyampaikan/mempresentasikan materi atau memberi tugas kepada siswa mempelajari materi di rumah.
    2. Pecahlah siswa Anda menjadi 2 kelompok, misalnya kelompok A dan kelompok B. Mintalah mereka berhadap-hadapan.
    3. Bagikan kartu pertanyaan kepada kelompok A dan kartu jawaban kepada kelompok B.
    4. Sampaikan kepada siswa Anda bahwa mereka harus mencari/mencocokkan karta yang dipegang dengan kartu kelompok lain. Anda perlu menyampaikan batasan maksimum waktu yang Anda berikan kepada mereka.
    5. Mintalah semua anggota kelompok A untuk mencari pasangannya di kelompok B. Jika mereka sudah menemukan pasangannya, mintalah mereka melaporkan diri kepada Anda. Catatlah mereka pada kertas yang sudah Anda persiapkan.
    6. Jika waktu sudah habis, sampaikan kepada mereka bahwa waktu sudah habis. Bagi siswa yang belum menemukan pasangan, mintalah mereka untuk berkumpul tersendiri.
    7. Panggil satu pasangan untuk presentasi. Pasangan lain dan siswa yang tidak mendapat pasangan memperhatikan dan memberikan tanggapan apakah pasangan itu cocok atau tidak.
    8. Terakhir, Anda memberikan konfirmasi tentang kebenaran pasangan tersebut.
    9. Panggil pasangan berikutnya, begitu seterusnya sampai seluruh pasangan melakukan presentasi.

catatan:

  • Anda bisa memberikan hukuman yang mendidik pada siswa yang tidak menemukan pasangan atau menemukan pasangan ternyata salah.
  • Anda juga dapat memberikan skor pada pasangan yang berhasil menemukan pasangan.

make a match untuk menggali materi

  1. Sampaikan kepada siswa Anda, bahwa hari ini menggunakan metode mencari pasangan. Sampaikan pula bahwa jika mereka sudah menemukan pasangan, maka dengan sendirinya pasangan itu menjadi satu kelompok.
  2. Bagikan lembaran-lembaran kertas pada Siswa Anda secara acak.
  3. Mintalah kepada siswa Anda untuk mencari pasangan dari lembaran kertas yang mereka terima.
  4. Jika mereka sudah menemukan pasangannya, mintalah kepada mereka menyusun materi utuh berdasarkan kata-kata kunci yang mereka bawa pada lembar kertas yang sudah Anda persiapkan
  5. Bagikan kertas plano dan lem pada setiap kelompok untuk menempelkan hasil kerja mereka.
  6. Apabila siswa Anda telah menyelesaikan tugas di atas, mintalah satu kelompok untuk presentasi. kelompok lain memberikan tanggapan. Dan, Anda sebagai guru memberikan konfirmansi.
  7. Apabila satu kelompok sudah selesai peresentasi, lanjutkan ke kelompok lain sampai semua kelompok presentasi.

 

 

Dipublikasi di Uncategorized | 5 Komentar

Model Pembelajaran Tipe STAD

BAB I

PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang

Dalam dunia pendidikan banyak sekali inovasi yang dilakukan tak terkecuali dalam pembelajaran, karena pembelajaran adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengoptimalkan potensi siswa agar dapat mencapai tujuan pendidikan. Untuk itu perlu adanya perrencanaan yang matang, dalam perencanaan ini terdapat pendekatan pembelajaran yang meliputi strategi, metode dan teknik pembelajaran. Pendekatan pembelajaran ini harus dailakukan pembaharuan agar sesuai dengan perkembangan zaman.

Pembelajaran tuntas (mastery learning) dalam pembelajaran berbasis kompetensi adalah pendekatan dalam pembelajaran yang memprsyaratkan peserta didik menguasai secara tuntas seluruh standar kompetensi maupun kompetensi dasar mata pelajaran tertentu. Ketuntasan setiap indikator yang telah ditetapkan dalam suatu kompetensi dasar berkisar antara 0-100%. Kriteria ideal ketuntasan untuk masing-masing indikator 75%. Satuan pendidikan harus menentukan kriteria ketuntasan minimal (KKM) dengan mempertimbangkan tingkat rata-rata peserta didik serta kemampuan sumber daya pendukung dalam penyelenggaran pembelajaran. Satuan pendidikan diharapkan meningkatkan kriteria ketuntasan belaiar secara terus menerus untuk mencapai kriteria ketuntasan ideal (Depdiknas, 2008).

Kriteria ketuntasan minimal (KKM) adalah batas minimal ketercapaian kompetensi setiap indikator, kompetensi dasar, standar kompetensi aspek penilaian mata pelajaran yang harus dikuasai oleh peserta didik. KKM ditentukan melalui analisis tiga hal, yaitu tingkat kerumitan (kompleksitas), tingkat kemampuan rata-rata siswa (intake), dan tingkat kemampuan sumber daya dukung sekolah (man, money, material) (Depdiknas, 2008).

Rambu-rambu kriteria ketuntasan minimum (KKM) :

  1. KKM ditetapkan pada awal tahun pelajaran
  2. KKM ditetapkan oleh dewan pendidik mata pelajaran sekolah
  3. Nilai KKM dinyatakan dalam bentuk bilangan bulat dengan rentang 0-100
  4. Nilai ketunasan belajar maksimal adalah 100
  5. Sekolah dapat menetapkan KKM di bawah nilai ketuntasan belajar maksimal
  6. Nilai KKM harus dicantumkan dalam Laporan Hasil Belajar Siswa (LHBS)

Belajar kooperatif (cooperatif learning) mengandung pengertian sebagai suatu pembelajaran yang menggunakan grup kecil dimana siswa bekerjasama belajar satu sama lain, berdiskusi dan saling berbagi ilmu pengetahuan, saling berkomunikasi, sding membantu untuk memahami materi pelajaran. Belajar kooperatif mempunyai pengertian lebih luas dari hanya sekedar kerja kelompok. Di dalam belajar kooperatif setiap anggota kelompok bertanggungiawab terhadap keberhasilan anggota-anggota kelompoknya dalam mencapai tujuan pembelajaran (Chairani, 2003:10). Pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial (Ibrahim, dkk, 2000:7).

Model pembelajaran kooperatif memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bekerja kelompok dalam memecahkan suatu masalah secara bersama-sama. Beberapa pendapat tentang model belajar kooperatif dikemukakan :

  1. Menurut Slavin dalam (Chairani, 2003:3). Mendefinisikan belajar kooperatif (Cooperatif Learning) sebagai suatu teknik pembelajaran dimana siswa bekerja dalam suatu kelompok yang heterogen yang beranggotakan 4-6 orang. Heterogenitas anggota kelompok dapat ditinjau dari jenis kelamin, etnis, prestasi akademik maupun status sosial
  2. Menurut Sunal dan Hans (Hariyanto, 2000:18) mengemukakan, “Model kooperatif learning yaitu suatu cara pendekatan atau serangkain strategi yang khusus dirancang untuk memberikan dorongan kepada peserta didik agar bekerjasama selama berlangsungnya proses pembelajaran.”
  3. Selanjutnya Menurut Stahl (Wardani, 2001:7) menyatakan, “Cooperatif learning dapat meningkatkan sikap tolong menolong dalam perilaku sosial.”
  4. Demikian pula Tim MKPBM (2001:218) mengungkapkan, “Cooperatif Learning mencakupi suatu kelompok kecil peserta didik yang bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan suatu tugas, atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama lainnya.

Dari Pengertian diatas dapat kita simpulkan bahwa model kooperatif learning adalah suatu tekhnik atau cara dimana tekhnik pembelajarannya khusus dirancang dalam suatu kelompok yang heterogen dimana peserta didik saling meningkatkan sikap tolong menolong dan bekerjasama untuk menyelesaikan tugas sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Berdasarkan beberapa pengertian pembelajaran kooperatif tersebut di atas terlihat adanya pergeseran peran guru yang sentral kepada peran guru yang mengelola aktivitas belajar siswa melalui kerja sama kelompok di kelas. Untuk itu Ibrahim, dkk (2000: 6-7) mengemukakan ciri-ciri metode pembelajaran kooperatif antara lain:

  1. Siswa bekerja sama dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajamya.
  2. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
  3. Bilamana mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya suku dan jenis kelamin berbeda.
  4. Penghargaan lebih berorientasi pada kelompok ketimbang individu.

Beberapa faktor yang dipandang sebagai penyebab masalah adalah: (1) Metode pembelajaran yang digunakan guru sering monoton. Metode ceramah merupakan metode yang secara konsisten digunakan oleh guru dengan urutan menjelaskan, memberi contoh, latihan dan pekerjaan rumah. Tidak ada variasi metode pembelajaran guru berdasarkan karakteristik materi yang diajarkannya, (2) Guru jarang sekali memberikan kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi dengan teman-temannya atau dengan guru dalam upaya mengembangkan pemahaman konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang penting. (3) Pengajaran yang dilakukan oleh guru lebih menekankan pada manipulasi matematis, mereka mulai dengan definisi konsep, kemudian menyatakannya dengan matematis. (4) Guru tidak memahami metode penyelesaian soal-soal secara sistematis. Guru hanya melihat hasil akhir dari soal-soal yang dikerjakan para siswa. (5) Guru lebih tertarik pada jawaban siswa yang benar tanpa menganalisis kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa dan prosedur penyelesaiannya.

Disamping faktor-faktor di atas, strategi pembelajaran maupun model pembelajaran yang digunakan oleh guru menentukan kualitas proses dan hasil belajar siswa. Oleh karena itu guru harus pandai memilih strategi pembelajaran yang dapat melibatkan seluruh komponen yang ada secara optimal sehingga siswa dapat belajar secara aktif.

Model pembelajaran kooperatif memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bekerja kelompok dalam memecahkan suatu masalah secara bersama-sama. TIM MKPBM (2001:217) mengemukakan “model cooperative learning tampaknya akan lebih dapat melatih para peserta didik untuk mendengarkan pendapat orang lain dan merangkum pendapat atau temuan-temuan dalam bentuk tulisan.”

Pembelajaran kooperatif ditunjukkan adanya kolaborasi antara beberapa pemikiran sehingga diperoleh pemahaman yang lebih baik. Pendapat ini sejalan dengan pendapat Slavin, R.E. (2009:8) “dalam model pembelajaran kooperatif akan duduk bersama dalam kelompok yang beranggotakan empat orang untuk menguasai materi yang disampaikan oleh guru. Untuk lebih jelasnya dapat kita lihat pada metode yang disebut Student Teams Achievement Division (STAD).”

B.       Rumusan Masalah

Dari Latar belakang masalah yang telah penulis sampaikan, maka penulis dapat merumuskan permasalahan sebagai berikut :

  1. Teori dan konsep tentang model pembelajaran tipe STAD
  2. Kelebihan dan kekurang Model pembelajaran Tipe STAD
  3. Asumsi Penerapan model pembelajaran tipe STAD
  4. Implementasi model pembelajaran tipe STAD dalam pembelajaran Ekonomi

C.      Tujuan dan Manfaat Penulisan

  1. Tujuan

Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah:

  1. Untuk mengetahui bagaimana peneraapan model pembelajaran Tipe STAD di dalam kelas
  2. Untuk mengetahui langkah-langkah apa yang harus dilakukan oleh guru dalam penggunaan model pembelajatan tipe STAD
  3. Manfaat Penelitian

Dari penulisan makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada:

  1. Penulis, dapat memberikan pengetahuan tentang penerapan model pembelajaran tipe STAD.
  2. Untuk para guru, agar model pembelajaran tipe STAD ini bisa diterapkan didalam kelas untuk  menambah wawasan guru dan model pembelajaran yang digunakan lebih bervariasi.

 

BAB II

KAJIAN TEORI

A.      Teori Atau Konsep tentang Model Pembelajaran Tipe STAD

    1. Pengertian Model Pembelajaran Tipe STAD

Istilah pembelajaran kooperatif berasal dari bahasa Inggris yaitu “Cooperative Learning”. Dalam sebuah kamus Inggris-Indonesia, cooperative berarti kerjasa dan Learning berarti pengetahuan atau pelajaran (Hassan S & Echols J.M, 1987:67, dalam Ruhadi:2008). Karena berhubungan dengan proses belajar mengajar, maka istilah Cooperative Learning tersebut diartikan dengan pembelajaran kooperatif.

Model pembelajaran STAD termasuk model pembelajaran kooperatif. Semua model pembelajaran kooperatif ditandai dengan adanya struktur tugas, struktur tujuan dan struktur penghargaan. Dalam proses pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatifsiswa didorong untuk bekerjasama pada suatu tugas bersama dan mereka harus mengkoordinasikan usahanya untuk menyelesaikan tugas yang diberikan guru. Tujuan model pembelajaran kooperaif adalah prestasi belajar akademik siswa meningkat dan siswa dapat menerima berbagai keragaman dari temannya, serta pengembangan keterampilan sosial.

Menurut  Nur Citra Utomo dan C. Novi Primiani (2009: 9), “STAD didesain untuk memotivasi siswa-siswa supaya kembali bersemangat dan saling menolong untuk mengembangkan keterampilan yang diajarkan oleh guru”. Menurut Mohamad Nur (2008: 5), pada model ini siswa dikelompokkan dalam tim dengan anggota 4 siswa pada setiap tim. Tim dibentuk secara heterogen menurut tingkat kinerja, jenis kelamin, dan suku.

Student Teams Achievement Division (STAD) merupakan salah satu metode atau pendekatan dalam pembelajaran kooperatif yang sederhana dan baik untuk guru yang baru mulai menggunakan pendekatan kooperatif dalam kelas, STAD juga merupakan suatu metode pembelajaran kooperatif yang efektif.

Pembelajaran kooperatif tipe STAD di kembangkan oleh Robert E. Slavin, di mana pembelajaran tersebut mengacu pada belajar kelompok peserta didik. Dalam satu kelas peserta didik dibagi ke dalam beberapa kelompok dengan anggota empat sampai lima orang, setiap kelompok haruslah heterogen. Metode STAD merupakan salah satu model pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan teori Psikologi sosial.

Dalam teori ini sinergi yang muncul dalam kerja kooperatif menghasilkan motivasi yang lebih daripada individualistik dalam lingkungan kompetitif. Kerja kooperatif meningkatkan perasaan positif satu dengan lainnya, mengurangi keterasingan dan kesendirian, membangun hubungan dan menyediakan pandangan positif terhadap orang lain. Pembelajaran kooperatif tipe STAD terdiri lima komponen utama, yaitu :

  1. penyajian kelas,
  2. belajar kelompok,
  3. kuis,
  4. skor pengembangan dan
  5. penghargaan kelompok

Model STAD juga mempunyai beberapa kelebihan antara lain didasarkan pada prinsip bahwa para siswa bekerja bersama-sama dalam belajar dan bertanggung jawab terhadap belajar teman-temannya dalam tim dan juga dirinya sendiri, serta adanya penghargaan kelompok yang mampu mendorong para siswa untuk kompak, setiap siswa mendapat kesempatan yang sama untuk menunjang timnya mendapat nilai yang maksimum sehingga termotivasi untuk belajar.

Model STAD memiliki dua dampak sekaligus pada diri para siswa yaitu dampak instruksional dan dampak sertaan. Dampak instruksional yaitu penguasaan konsep dan ketrampilan, kebergantungan positif, pemrosesan kelompok, dan kebersamaan. Dampak sertaan yaitu kepekaan sosial, toleransi atas perbedaan, dan kesadaran akan perbedaan.

B.       Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD

Kutipan di atas menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif mempunyai keistimewaan-keistimewaan, yaitu setiap anggota kelompok diberi tugas, adanya interaksi langsung antar siswa, siswa dilarang belajar untuk dirinya sendiri dan teman satu kelompok, guru membantu siswa mengembangkan keterampilan seseorang dalam kelompok kecil, dan guru berinteraksi dengan siswa jika diperlukan.

  1. Kelebihan Model Pembelajaran Koopertaif Tipe STAD
  • Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggunakan keterampilan bertanya dan membahas suatu masalah.
  • Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih intensif mengadakan penyelidikan mengenai suatu masalah.
  • Dapat mengembangkan bakat kepemimpinan dan mengajarkan keterampilan berdiskusi.
  • Dapat memungkinkan guru untuk lebih memperhatikan siswa sebagai individu dan kebutuhan belajarnya.
  • Para siswa lebih aktif bergabung dalam pelajaran mereka dan mereka lebih aktif dalam diskusi.
  • Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan rasa menghargai, menghormati pribadi temannya, dan menghargai pendapat orang lain.

 

  1. Kelemahan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
  • Kerja kelompok hanya melibatkan mereka yang mampu memimpin dan mengarahkan mereka yang kurang pandai dan kadang-kadang menuntut tempat yang berbeda dan gaya-gaya mengajar berbeda.
  • Adanya perpanjangan waktu karena kemungkinan besar tiap kelompok belum dapat menyelesaikan tugas sesuai waktu yang ditentukan sampai tiap anggota kelompok memahami kompetensinya.
  • Jika ditinjau dari sarana kelas, maka untuk membentuk kelompok kesulitan mengatur dan mengangkat tempat duduk. Hal ini karena tempat duduk yang terlalu berat.
  • Karena rata-rata jumlah siswa di dalam kelas adalah 45 orang, maka guru kurang maksimal dalam mengamati belajar kelompok secara bergantian.
  • Guru dituntut bekerja cepat dalam menyelesaikan tugas-tugas yang berkaitan dengan pembelajaran yang telah dilakukan, antara lain koreksi pekerjaan siswa, menentukan perubahan kelompok belajar.
  • Memerlukan waktu dan biaya yang banyak untuk mempersiapkan dan kemudian melaksanakan pembelajaran kooperatif tersebut.
  • Membutuhkan waktu yang lebih lama untuk peserta didik sehingga sulit mencapai target kurikulum.
  • Membutuhkan kemampuan khusus guru sehingga tidak semua guru dapat melakukan pembelajaran kooperatif.
  • Menuntut sifat tertentu dari peserta didik, misalnya sifat suka bekerja sama.

C.      Asumsi Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD

  1. Pengajaran

Tujuan utama dari pengajaran ini adalah guru menyajikan materi pelajaran sesuai dengan yang direncanakan. Setiap awal dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD selalu dimulai dengan penyajian kelas.

Penyajian tersebut mencakup pembukaan, pengembangan dan latihan terbimbing dari keseluruhan pelajaran dengan penekanan dalam penyajian materi pelajaran.

  1. Pembukaan
  • Guru menyampaikan pada siswa apa yang hendak mereka pelajari dan mengapa hal itu penting. Timbulkan rasa ingin tahu siswa dengan demonstrasi yang menimbulkan teka-teki, masalah kehidupan nyata, atau cara lain.
  • Guru dapat menyuruh siswa bekerja dalam kelompok untuk menemukan konsep atau merangsang keinginan mereka pada pelajaran tersebut.
  •  Ulangi secara singkat ketrampilan atau informasi yang merupakan syarat mutlak.
  1. Pengembangan
  • Kembangkan materi pembelajaran sesuai dengan apa yang akan dipelajari siswa dalam kelompok.
  • Pembelajaran kooperatif menekankan, bahwa belajar adalah memahami makna bukan hapalan.
  • Mengontrol pemahaman siswa sesering mungkin dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan.
  • Memberi penjelasan mengapa jawaban pertanyaan tersebut benar atau salah.
  • Beralih pada konsep yang lain jika siswa telah memahami pokok masalahnya.
  1. Latihan Terbimbing
  • Menyuruh semua siswa mengerjakan soal atas pertanyaan yang diberikan.
  • Memanggil siswa secara acak untuk menjawab atau menyelesaikan soal. Hal ini bertujuan supaya semua siswa selalu mempersiapkan diri sebaik mungkin.
  • Pemberian tugas kelas tidak boleh menyita waktu yang terlalu lama. Sebaiknya siswa mengerjakan satu atau dua masalah (soal) dan langsung diberikan umpan balik.
  1. Belajar Kelompok

Selama belajar kelompok, tugas anggota kelompok adalah menguasai materi yang diberikan guru dan membantu teman satu kelompok untuk menguasai materi tersebut. Siswa diberi lembar kegiatan yang dapat digunakan untuk melatih ketrampilan yang sedang diajarkan untuk mengevaluasi diri mereka dan teman satu kelompok.

Pada saat pertama kali guru menggunakan pembelajaran kooperatif, guru juga perlu memberikan bantuan dengan cara menjelaskan perintah, mereview konsep atau menjawab pertanyaan. Selanjutnya langkah-langkah yang dilakukan guru sebagai berikut :

a)        Mintalah anggota kelompok memindahkan meja / bangku mereka bersama-sama dan pindah kemeja kelompok.

b)        Berilah waktu lebih kurang 10 menit untuk memilih nama kelompok.

c)        Bagikan lembar kegiatan siswa.

d)       Serahkan pada siswa untuk bekerja sama dalam pasangan, bertiga atau satu kelompok utuh, tergantung pada tujuan yang sedang dipelajari. Jika mereka mengerjakan soal, masing-masing siswa harus mengerjakan soal sendiri dan kemudian dicocokkan dengan temannya. Jika salah satu tidak dapat mengerjakan suatu pertanyaan, teman satu kelompok bertanggung jawab menjelaskannya. Jika siswa mengerjakan dengan jawaban pendek, maka mereka lebih sering bertanya dan kemudian antara teman saling bergantian memegang lembar kegiatan dan berusaha menjawab pertanyaan itu.

e)        Tekankan pada siswa bahwa mereka belum selesai belajar sampai mereka yakin teman-teman satu kelompok dapat mencapai nilai sampai 100 pada kuis. Pastikan siswa mengerti bahwa lembar kegiatan tersebut untuk belajar tidak hanya untuk diisi dan diserahkan. Jadi penting bagi siswa mempunyai lembar kegiatan untuk mengecek diri mereka dan teman-teman sekelompok mereka pada saat mereka belajar. Ingatkan siswa jika mereka mempunyai pertanyaan, mereka seharusnya menanyakan teman sekelompoknya sebelum bertanya guru.

f)         Sementara siswa bekerja dalam kelompok, guru berkeliling dalam kelas. Guru sebaiknya memuji kelompok yang semua anggotanya bekerja dengan baik, yang anggotanya duduk dalam kelompoknya untuk mendengarkan bagaimana anggota yang lain bekerja dan sebagainya.

  1. Kuis

Kuis dikerjakan siswa secara mandiri. Hal ini bertujuan untuk menunjukkan apa saja yang telah diperoleh siswa selama belajar dalam kelompok. Hasil kuis digunakan sebagai nilai perkembangan individu dan disumbangkan dalam nilai perkembangan kelompok.

  1. Penghargaan Kelompok

Langkah pertama yang harus dilakukan pada kegiatan ini adalah menghitung nilai kelompok dan nilai perkembangan individu dan memberi sertifikat atau penghargaan kelompok yang lain. Pemberian penghargaan kelompok berdasarkan pada rata-rata nilai perkembangan individu dalam kelompoknya.

 

Adapun langkah-langkah penggunaan model pembelajaran tipe STAD

  • Guru membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang secara heterogen.
  • Guru menyajikan pelajaran.
  • Guru memberi tugas pada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok
  • Peserta didik yang bisa mengerjakan tugas/soal menjelaskan kepada anggota kelompok lainnya sehingga semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
  • Guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh peserta didik. Pada saat menjawab kuis/pertanyaan peserta didik tidak boleh saling membantu.
  • Guru memberi penghargaan (rewards) kepada kelompok yang memiliki nilai/poin tertinggi.
  • Guru memberikan evaluasi.
  • Penutup.

 

Dipublikasi di Uncategorized | 3 Komentar

Perencanaan, Pengembangan Pembelajaran

 

PERENCANAAN DAN

PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN EKONOMI


1.    Dinamika persaingan siswa pada masa depan ?

Pada masa yang akan datang akan hadir sebuah ancaman jika kita tak mampu mengantasipasi laju perkembangan., secara tepat akurat dan dalam masa dini. Namun sebaliknya jika manusia sudah matang secara mentalitas dalam memperbaikinya maka segala macam bentuk tantangan dan ancaman justru akan menjadi peluang.Menurut buku ini kajian masa depan tidak identik membicarakan masalah nujum, namun sebuah prediksi yang amat sangat rasional. Dalam kajiannya dikaitkan degan masa depan setidaknya ada tiga bentuk sebuah ancangan itu, yakni:

a.       Kemungkinan masa depan (possible future).

b.      Peluang masa depan (probable furures) dan

c.       Masa depan yang diinginkan (preferred futures)

Mengahadapi tiga harapan itu, maka diperlukan sebuah kurikulum pendidikan yang senafas dengan ancangan kedepan. Kurikulum pendidikan harus tumbuh dan selalu meng-up date informasi kekinian sehingga pendidikan tidak hanya melakukan kegiatan akademik tapi cenderung membekali siswa/pelajar/mahasiswa untuk melakukan rekayasa diri agar masa depan yang serba kemungkinan atau penuh dengan probabilitas  dapat diurai sejak dini. Inilah bentuk antipasi cerdas pendidikan agar manusia mampu eksis disegala ATHG (ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan).

Selain itu kualitas dan skill siswa juga harus ditingkatkan, karena dengan skill dan kualitas siswa dimasa depan akan lebih bermanfaat untuk menghadapi masa yang akan datang, sebab pada saat sekarang sudah banyak perubahan yang terjadi, diantaranya banyak sekolah yang bertaraf Internasional, jadi dalam segi bahasa, siswa sangat dituntut untuk bias berbahasa inggris aktif. Jadi skill siswa dalam bahasa inggris tersebut akan mudah bagi siswa untuk bisa berkomunikasi  dengan  negara lain, sekurangnya bisa berkomuniksai lewat internet dengan siswa asing, bahkan bisa jadi pertukaran pelajar nantinya.

2.    Lulusan SMA/SMK yang akan disiapkan untuk menghadapi lingkungan yang berubah tersebut adalah, dengan cara memberikan pengajaran skill yang lebih baik, memberikan pengajaran yang sesuai dengan standar Internasional, memberikan motivasi agar mereka bisa lebih memahami apa yang akan terjadi untuk masa yang akan datang, dan juga tidak melenceng dari culture yang ada di lingkungan kita.

3.    Kemampuan/kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh siswa untuk bertahan hidup (survival)

a.    Fokus menemukan dan memupuk potensi unggul setiap anak

Sekolah masa depan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada anak untuk menemukan potensi unggulnya. Dalam pembelajaran di sekolah, anak dapat menemukan apa yang menjadi kelebihannnya. Dengan pembimbingan guru, anak diarahkan untuk membangkitkan berbagai potensi yang dimiliki. Sekolah melalui guru memberikan berbagai kegiatan belajar yang dapat mengeksplorasi semua kemampuan setiap siswa.

Setelah menemukan potensi, sekolah juga harus menyediakan sarana dan prasarananya untuk memupuk potensi itu. Sangat disayangkan jika anak sudah menemukan potensinya namun tidak ada wahana untuk memupuk potensi itu agar melejit. Untuk itu sarana perpustakaan lengkap, multimedia, internet, laboratorium kecil (sain, sosial), dan tempat unjuk kreatifitas.

b.    Mengembangkan kecerdasan beragam dan mengembangkan moral anak secara berimbang

Sekolah kuno adalah sekolah yang hanya mengembangkan aspek intelektual saja. Sehingga anak yang menikmati sekolah kuno adalah anak yang hanya jago matematika, yang memiliki rangking (baca juga bahaya rangking). Sementara anak yang cerdas fisik, musik tak menikmati belajar di sekolah kuno.

Sementara sekolah masa depan adalah sekolah yang memberikan kesempatan terbuka kepada semua anak untuk mengembangkan kecerdasan yang dimilikinya. Anak yang cerdas musik menimati pembelajaran musik yang disukainya, anak yang cerdas fisik melakukan berbagai kegiatan yang disukainya.

Selain itu, sekolah masa depan juga mengembangkan moral anak. Ciri yang terlihat adalah adanya pembiasaan yang konsisten yang diterapkan sekolah. Kebiasaan membuang sampah di tempatnya, kebiasaan menghormati guru, kebiasaan belajar terbuka menjadi ciri utamanya.

c.    Mengajarkan life skill

Sekolah masa depan bisa mengetahui kebutuhan dasar seluruh siswanya. Sekolah masa depan dapat mengajarkan dan mengembangkan keterampilan hidup (life skill) siswanya. Sekolah masa depan adalah miniatur masyarakat, bukan sebaliknya memisahkan anak dengan dunia nyatanya. Sekolah mensuport (mendukung) berbagai kegiatan yang berbasiskan keterampilan dasar yang berhubungan dengan lingkungan sekitarnya. Bagaiman anak bersikap terhadap orang lain, terhadap lingkungan kelas, terhadap lingkungan masyarakat menjadi bagian utama pembelajaran.

d.   Sistem penilaian yang berbasiskan hasil karya ilmiah dan peningkatan kemampuan penguasaan bidang-bidang yang dipelajarinya

Inilah beda nyata sekolah kuno dan sekolah masa depan. Sekolah kuno hanya memberikan penilaian pada tertulis dalam bidang akademik saja. Test-test tertulis menjadi evaluasi utama pembelajaran. Tak ada waktu untuk melakukan test praktek. Anak hanya dinilai dari tulisannya saja. Sementara sekolah masa depan sekolah yang memberikan penilaian

e.    Sekolah yang berbasiskan pada kehidupan dan praktek-praktek lapangan

Inti dari sekolah adalah pusat dari pembelajaran sejati untuk menghadapi masa depan kelak saat hidup dalam masyarakat. Jadi sangatlah tidak fair jika sekolah malah digunakan untuk menghalangi anak belajar sesuai kepada masyarakat. Pada hakikatnya, anak di sekolah belajar tentang kehidupan. Anak belajar bagaimana ia nantinya bisa beradaptasi dan bersosialisasi dengan masyarakat sekitarnya. Untuk itu dperlukan berbagai latihan-latihan praktek dan praktis yang bisa dipelajari siswa. Ketika di sekolah anak belajar matematika, maka sekolah melalui gurunya harus bisa membawa matematika keseharian dalam pembelajaran di kelas.

f.     Para guru yang selalu memotivasi dan mendorong siswa untuk mau dan mampu mempelajari sesuatu

Tugas guru bukan memberi pengetahuan dan mentransfer ilmu. Guru di sekolah masa depan memiliki tugas sebagai motivator penggerak energi dalam diri anak. Guru sebagai motivator berarti guru memahami apa yang diingini dan diharapkan anak. Guru memberikan motivasi akan anak mampu belajar secara mandiri.

Jika di sekolah kuno guru datang menjelaskan pelajaran, mengevaluasi siswa terus pulang, maka guru di sekolah masa depan adalah guru yang bisa memberikan motivasi anak untuk bergerak mandiri belajar  menemukan pengetahuan yang belum diberikan guru.

g.    Mengembalikan sistem dan pola pembelajaan pada kodrat penciptaan anak

·         Sifat dasar

Sifat dasar anak adalah suka bermain dan selalu bergembira. Sekolah masa depan adalah sekolah yang mampu merancang pembelajaran yang dilakukan dengan bermain dan dalam suasana yang menyenangkan. Penekanan, stressing, ancaman merupakan sifat guru kuno yang harus ditinggalkan.

·         Cara belajar / gaya belajar

Setiap anak belajar sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Ada yang memiliki kelebihan gaya belajar dalam auditori, ada yang lebih di visual maupun memiliki keunggulan di kinestetik.Guru masa depan harus bisa menemukan dan mengembangkan model pembelajaran berdasarkan gaya belajar di atas. Memadukan ketiga gaya belajar merupakan kreativitas tertinggi guru dalam strategi pembelajaran yang diterapkannya.

·         Potensi unggul

Jika di kelas ada 40 siswa, maka di kelas itu ada 40 potensi yang unik, yang berbeda antara siswa satu dengan yang lainnya. Diperlukan 40 strategi belajar yang memadai untuk masing-masing anak. Tugas guru adalah menemukan potensi masing-masing anak dan mengaplikasikannya dalam proses belajar mengajar di kelas.

·         Psikologi perkembangan

Sekolah masa depan memandang anak adalah individu yang sedang dalam peoses perkembangan. Anak di sekolah merupakan anak yang sedang berkembang sesuai dengan karakter masing-masing. Fase perkembangan anak yang bebeda setiap usianya memberikan landasan kuat bagi sekolah dan guru dalam mendisain pembelajaran dan kurikulum. Sekolah masa depan mengakomodir fase perkembangan dalam rangka memahami anak sesuai dengan fitrahnya.

 

4.    Kemampuan inti lanjutan yang yang harus dimiliki untuk pengembangan diri siswa (lulusan)

Hal yang harus dimiliki oleh setiap siswa adalah sikap mental, psikologi, dan adaptasi karena untuk mengarah ke yang lebih baik siswa harus memiliki mental, psikologi dan adaptasi yang baik pula, agar siswa tidak kaget untuk melihat masa yang akan datang. Kalau kita telah memberikan skill, mental, psikologi dan adaptasi yang baik maka siswa tersebut dapat menghadapi tantangan dimasa yang akan datang dengan mudahnya.

Ekspansif   : Skill dan mutu/kualitas dengan adanya skill dan mutu dan kualitas maka bisa membuat siswa tersebut lebih ekspansif dimata orang banyak, karena setiap apa yang dikerjakan dengan skil nya lebih bermanfaat dan bermutu serta berkualitas.

Karir           : meningkatkan keahlian yang dimiliki maka mereka bisa memiliki karir yang lebih baik

Promosi      : Inti dari semanya dalah skill, kemampuan, keahlian dan kualitas maka dengan semuanya dapat terpenuhi maka dapat dengan mudah siswa tersebut dalam meraih karir, ekspansif dan promosi.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Good Luck Friend

 

Tidak terasa sudah 6 bulan saya mengeluti pekerjaan ini, semenjak saya meninggalkan pekerjaan lama di kota Jakarta kurang lebih 7 bulan yang silam. Alhamdulilah semua berjalan lancar mulai dari kehidupan pribadi sampai dunia pekerjaan. Tak terasa sudah banyak pengalaman yang saya dapatkan disini, mulai dari teman-teman yang baru, dan pekerjaan yang baru. Tapi ada yang membuat saya sedih teman saya yang sudah lama saya kenal malah sudah bisa dibilang seperti keluarga sendiri akan pergi meninggalkanku (reasand).

Ayu sapaan akrabnya, dia adalah teman sekerja saya, secara kebetulan dia juga bekerja disini. Ayu sudah 1 tahun 2 bulan bekerja disini, sekarang dia memutuskan hubungan kerja dengan alasan untuk meneruskan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi strata 2 Akuntansi yang sangat dia impikan, selain itu dia juga ingin mengelola usaha kelurganya, yang sekarang ini usaha tersebut tidak ada yang bisa untuk stay dan meneruskan usaha tersebut karena mempunyai kegiatan sendiri. Ayu sangat antusias akan pendidikan dan kewirausahaan, saya salut dengan dia, dimana dia mempunyai impian dan harapan yang sangat dalam untuk bisa diraihnya.

Memang materi bukanlah segala-galanya tapi zaman sekarang ini materi yang menuntut kita untuk bisa lebih berfikir kedepannya. Ayu orangnya sangat ramah, supel, murah berteman dan disenangi banyak orang, sangat disayangi sekali Ayu untuk mengambil Keputusan tersebut (reasand), tapi apa boleh buat tekad Ayu sudah bulat untuk mencoba mencari yang lebih baik lagi.

Dia sudah dewasa sudah bisa mengambil keputusan sendiri, saya melihat ditempat pekerjaan lama, Ayu bisa dibilang orang kepercayaan Pimpinan dan juga disenangi oleh pimpinan dalam segi pekerjaannya. Sangat disayangkan Ayu mengambil keputusan itu, tapi apa boleh buat Ayu berhak untuk menentukan pilhannya sendiri. Untuk mencari pengalaman dalam dunia pekerjaan sepertinya Ayu sudah berhasil membuat dirinya bangga dengan pekerjaannya, namun perjuangan Ayu tidak hanya terhenti disini saja masih banyak yang perlu diraih lagi. Tidak hanya untuk dirinya saja keluarga juga sokongan utama untuk masa depannya.

Selamat jalan Ayu, semoga kamu bisa meraih apa yang kamu impikan, bisa membuat bangga keluarga dan semua orang. Raihlah cita-citamu, kuyakin dengan optimism, kamu bisa meraih semuanya, dengan kesungguhanmu ku yakin kamu bisa menggapainya dengan mudah. Semoga kamu bisa menjalani ini semua dengan mudah. Amin….

NB.

Ayu gak ada lagi deh teman curhat Uni, gak ada lagi deh yang bisa bantu Uni, tapi gak papa dech moga ini bisa buat Uni lebih bisa mandiri lagi. Tenang aja Ayu Uni akan selalu ingat apa pesan-pesan  Ayu… WKWKWK. Tetap kasih kabar ke Uni yach…. J

Wish U The Best adik Ku.. WILFAH BUSRI WAHYU, SE

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Marhaban Ya Ramadhan

MARHABAN YA RAMADHAN…..Tidak terasa Bulan Ramadhan dah diambang pintu, dah mau puasa aja. Masih ingat tahun lalu puasa Ramadhan jauh dari keluarga gak ke bayang, heee. Kalau diingat-ingat puasa tahun lalu banyak bolong sholat tarwihnya, trus udah puasa bukanya telat lagi, nasib diperantauan. Lumayan nambah pengalaman gimana rasanya puasa Ramadhan dan lebaran tanpa orang tua dan keluarga.

Sekarang gak sendiri lagi sobat dah bareng keluarga lagi, jadi ada yang perhatian tambah lagi My Lovely ada disisi jadi dapat plus-plus dech perhatiannya. Heheheheheh…………..Oya Sobat berhubung Ramadhan mau datang, saya mau ngucapin Minal Aidin Walfaizin, Maaf lahir bathin yach, semoga amal ibadah puasa kita diterima oleh yang Maha Kuasa. Amin….

Sobat Blogger, puasa Ramadhan tahun ini keluarga ku jadi bertambah, kemaren tanggal 15 juli 2012 ponakan ku mulai menghirup udara segar di atas bumi ini. dia mau ngerayain puasa juga nich kayak nya sobat, dah gak betah kali ya tinggal di dalam perut bundanya, heee… jadi ada mainan baru dech. Trus biar ada yang diliatin sanbil di timang-timang jadi puasa nya gak kerasa, soalnya sibuk sama si bayi mungil. Wkwkwkwkwkwk.

Sobat moga aja puasa kita lancar aja yach, di beri kemudahan dalam menjalankan bulan suci ramadhan dengan penuh kebahagian. Aku berharap Bulan Ramadhan tahun ini bisa memberikan yang terbaik buat kita semua, semoga ini bisa membuat kita lebih baik lagi, baik dalam segi ibadah (agama) maupun dari dalam jasmani, dan hidup kedepannya. Amin….

Selamat menunaikan Ibadah Puasa ya Sobat….

Semoga amal Ibadah kita diterima oleh Allah SWT, Amin….

 

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Kelahiran Anak Pertama (Ponakan Ku Baby Mungil)

 

Hari itu telah datang, hari yang ditunggu selama sembilan bulan sepuluh hari, tepatnya tanggal 15 Juli 2012, pukul 11 lewat 50 menit, terdengar keras suara nan lantang seakan memecahkan bumi yang bulat ini. Seorang anak laki-laki yang tampan dan gagah putra pertama dari kakak ku Erfa Wahyu Lisasni dan Rulli Yoserizal mulai menghirup udara segar di bumi ini.

Tidak diduga seorang baby mungil itu telah hadir dalam keluargaku, dengan berat 2,8 kg dan panjang badan 4,8 cm. Ternyata prediksi Dokter itu salah yang mengatakan baby mungil lahir di bulan Agustus, Tuhan berkata lain si baby mungil di percepat untuk hadir di muka bumi ini. Alhamdulilah si baby mungil lahir dengan selamat, Terima kasih ya ALLAH …

Persalinan itu didampingi oleh suami kakakku Rully Yoserizal, Ibuku tercinta Faizah dan adekku yang manis Erfa Novri Yeni. Persalinan yang penuh perjuangan yang telah dilewati oleh kakak ku berjalan dengan lancar dan selamat. WELCOME BABY MUNGIL….

Dengan penuh perjuangan kakak ku melahirkan baby mungil. Tak bisa berkata apa-apa, memang melahirkan adalah perjuangan antara hidup dan dan mati seorang ibu, kakak ku berpesan benar sakit rasanya melahirkan, untuk itu jagalah perasaan seorang ibu yang telah susah payah dan mempertaruhkan nyawa nya untuk hadirnya kita dimuka bumi ini.

Sekarang kebahagian itu terpancar di hati keluargaku, tangismu mulai meramaikan rumah ini. Senang sekali hati ku punya ponakan baru. Kelihatan sekali sumringah di mukamu kakak ku, sekarang kamu telah menjadi seorang Bunda dan Ayah, selamat ya kak sudah memiliki keluarga kecil, semoga menjadi keluarga yang bahagia sampai akhir hayat mu. Amin…

Buat Baby Mungil ku, selamat datang didunia baru mu. Jadilah anak yang sholeh, berbakti kepada orang tua dan kelak menjadi anak yang sukses. Amiiin…dah dapet nich nama yang bagus buat sin Baby Mungil “Muhammad Alvan Ruansa” … I LOVE U BABY MUNGIL…..

 

Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar